Laman

Senin, 27 Februari 2012

Perbedaan Bollywood Dan Hollywood


Bollywood Vs Hollywood
Bollywood adalah portmanteau (gabungan dua atau lebih kata atau morfem yang membentuk makna baru) dari kata Bombay (nama lama kota Mumbai) dengan kata Hollywood. Orang sering salah kaprah dan menganggap film-film India sebagai film Bollywood. Padahal tidak semua film India adalah film Bollywood sebagaimana tidak semua film Amerika adalah film Hollywood. Baik Bollywood maupun Hollywood adalah pusat industri film. Bedanya kalau Hollywood memiliki tempat/wilayah yang nyata, yaitu berlokasi di sebelah barat laut Los Angeles, California. Sedang kalau kita pergi ke Mumbai dan mencari Bollywood pasti tidak akan ketemu, karena memang tidak ada wilayah/desa/kecamatan/karesidenan yang bernama Bollywood.
Istilah Bollywood mulai dikenal sejak tahun 1970-an. Kita tidak tahu pasti siapa yang menciptakan istilah ini. Beberapa orang pernah mengaku sebagai penciptanya, di antaranya pembuat lirik dan film Amit Khanna dan seorang jurnalis bernama Bevinda Collaco. Ada yang mengatakan Bollywood terinspirasi dari kata Tollywood, yaitu istilah yang merujuk pada film-film yang berasal dari wilayah Bengali Barat, tepatnya di Tollygunge (pusat perfilman India sebelum pindah ke Bombay). Jadi Bollywood adalah istilah yang kita gunakan untuk merujuk pada film-film yang berbasis di Mumbai, yang notabene menjadi pusat produksi film India sekarang menggantikan pusatnya yang dulu yang ada di Tollygunge, yang lazim disebut Tollywood.
Baik Bollywood maupun Hollywood sangat gemar membuat film-film super. Entah itu super hero, super love, super canggih, ataupun super khayal. Saya tidak tahu apakah ini masalah “Siapa yang mencekoki” ataukah “Siapa yang minta cekok”. Dan jika kita bicara soal film bagus apakah itu artinya harus film yang menyuguhkan segalanya serealistis mungkin? Jika demikian maka artinya tidak lain dan tidak bukan; setiap film musikal adalah film buruk. Ini tentu akan ditentang oleh banyak pihak. Khususnya penggemar film Bollywood.
Untuk kesuksesan sebuah film unsur teknis memang punya peran besar. Tapi unsur ini pun akan sangat relatif dan berbeda keragamannya berdasarkan genre film yang bersangkutan. Misalnya untuk film action mungkin dibutuhkan sebuah jet tempur sungguhan, sedang untuk film komedi hanya dibutuhkan sebuah celana pendek yang lusuh, dan untuk film drama dibutuhkan mata yang berkaca-kaca atau mungkin mimik wajah orang yang memendam dua perasaan berbeda. Sinematografi yang diterapkan juga akan sangat berbeda antara sebuah film dokumenter dengan film fiksi-ilmiah. Meski begitu ada satu unsur yang mungkin sama dalam semua jenis film, yang menentukan keberhasilannya, yakni skenario yang cerdas.
Budget besar, aktor senior, sutradara beken, tapi skenario buruk maka filmnya pasti akan jadi sampah. Saya kira ini pula kenapa film Indonesia sedikit sekali bisa berkiprah di kancah internasional; karena sangat amat miskin akan skenario yang cerdas. Penyebabnya? Macam-macam, di antaranya kian hari kita kian menghindari kesusastraan. Kalaupun mau baca novel, maka novel-novel yang sangat ringan. Saking mewabahnya kemerosotan minat ini sampai-sampai kita, maaf, menjadi seperti segerombol anak TK yang fanatik dengan lagu “Lihat Bapak Polisi” dan mengklaim itulah lagu terbaik yang pernah ada. Katak di bawah tempurung kelapa dan bersikeras mengatakan tempurung tersebut adalah langit. Hmm..
Untuk mempermudah komunikasi, di sini saya akan menggunakan Bollywood sebagai metonimia film-film India, dan Hollywood sebagai metonimia film-film Amerika. Kekuatan film-film Bollywood adalah pada Emotional Stirring-nya. Mungkin 90 % film Bollywood adalah film keluarga & percintaan. Ini bisa jadi sangat membosankan dan bisa jadi juga sangat bermanfaat. Membosankan karena tanpa skenario yang cerdas seorang Shahrukh Khan bukanlah apa-apa di sini. Sebaliknya, tema keluarga adalah tema yang makin genting mengingat semakin metropolisnya gaya hidup kita. Emotional Stirring yang ditawarkan Bollywood biasanya mempengaruhi penonton untuk menjadi sosok yang jauh lebih menyayangi keluarga atau pasangannya. And for me it’s fairly good.
Berbeda dengan superlove-nya Bollywood, maka Hollywood lebih suka dengan superhero atau segala yang bersifat heroic. Berpuluh atau mungkin beratus film superhero/heroic diproduksi Hollywood. Kalau kita mau jujur maka kebanyakan superhero-nya Hollywood itu sebenarnya lebih fiktif ketimbang superlove-nya Bollywood. Tapi Hollywood pun punya banyak kelebihan, terutama dalam hal budget. Dengan budget besar Hollywood bisa membuat film-film fiksi-ilmiah yang super canggih, bisa membeli skenario-skenario cerdas, dan membayar aktor-aktris profesional yang mahal. Tentu saja, karena Amerika adalah negara liberal-kapitalis. Tapi meski begitu apa sih sebenarnya buruknya film superhero? Hampir semua film superhero kan bertemakan humanity; yaitu bahwa yang salah harus diperangi, dan yang lemah harus dilindungi? This couldn’t be called bad.
Adalah jelas bahwa “populer tidak berarti bagus”, demikian juga sebaliknya. Tapi adalah paradoksal juga karena saya pribadi sebenarnya tidak mempunyai patokan yang jelas untuk mengkategorikan sebuah film ke dalam karya yang berkualitas. Jika sebuah film tidak bisa saya tebak jluntrung-nya, dan jika sebuah film setelah saya tonton untuk pertama kalinya ingin saya tonton setidaknya dua atau tiga kali lagi, maka biasanya para kritikus sependapat dengan saya bahwa film itu bagus. Dengan model pengkategorian seperti itu, maka sangat sedikit film yang masuk dalam kategori “berkualitas”. Beberapa film-film Hollywood yang saya hampir tidak pernah bosan menontonnya lagi dan lagi adalah:
  1. The Godfather (1972)
  2. Rain Man (1988)
  3. Pretty Woman (1990)
  4. The Matrix (1999)
  5. Cast Away (2000)
Sedang untuk film-film Bollywood yang cukup berkesan bagi saya adalah:
  1. Mann (1999)
  2. Kabhi Khusi Kabhi Gham (2001)
  3. Koi… Mil Gaya (2003)
  4. 3 idiots (2009)
  5. My Name is Khan (2010)
Skrip film Bollywood biasanya jauh lebih sederhana dibandingkan skrip film Hollywood, namun dramatisasinya biasanya juga luar biasa. Hampir tidak ada orang yang tidak meneteskan air mata saat menyaksikan Mann dan Kuch Kuch Hota Hai. Seringkali juga saat menonton film Bollywood saya mengalami semacam déjà vu. Misalnya saat nonton Chori Chori Chupke Chupke (2001) saya pasti teringat Pretty Woman (1990), saat menyaksikan Koi..Mil Gaya (2003) saya pasti teringat E.T. the Extra-Terrestrial (1982), dan pada saat menyaksikan MNIK (2010) saya pasti teringat Rain Man (1988). Beberapa adegan di film-film tersebut banyak sekali yang mirip, sampai-sampai terkadang saya berpikir film-film tersebut adalah plagiat. Tapi saya selalu berusaha berbaik sangka, dan berpikir bahwa pembuatnya adalah orang-orang yang profesional, jadi pasti mereka sangat tahu tentang resiko pembajakan.
Lagu dan tarian di film Bollywood hampir menjadi sesuatu yang fardlu ‘ain, yakni harus ada. Film India tanpa lagu bagaikan banteng tanpa tanduk. Namun akhir-akhir ini Bollywood nampaknya ingin jadi Hollywood. Film-film dibikin lebih realistis, lagu-lagu dikurangi atau hanya dijadikan suara latar atau ditampilkan dalam momen yang masuk akal, misalnya di gereja. Lagu-lagu dan tarian menurut saya merupakan bagian penting yang turut mempengaruhi aspek internal dan eksternal film India. Bahkan terkadang, lagu-lagunya jauh lebih terkenal dan lebih bagus ketimbang filmnya, contoh lagu-lagu dalam film Soldier (1998). Lagu dan tarian dalam film india terkadang memiliki fungsi krusial menjaga kontunuitos plot cerita dan mengembangkan karakter tokoh, namun terkadang hanya bersifat atributif saja.
Hollywood sendiri bukannya tidak mempunyai film musikal, tapi agaknya masa keemasannya telah lewat. Film musikal Hollywood sangat populer di rentang tahun 1930-an sampai dengan tahun 1950-an, yaitu dengan rata-rata 30 film musikal per tahun. Sedang mulai 1960 sampai sekarang rata-rata hanya 10-15 film musikal per tahun. Untuk publik Indonesia film musikal Hollywood sangatlah tidak familiar. Kalau orang Indonesia mendengar kata Hollywood, maka yang paling mereka ingat adalah pistol dan orang-orang dengan kekuatan super. Bahkan judul yang provokatif seperti “From Paris With Love” dan “Mr. & Mr. Smith” pun ternyata isinya tembak-tembakan melulu. Hmmm…
Maaf untuk penggemar film action, bukan berarti saya merendahkan genre tersebut. Tapi saya pikir sangat sedikit sekali film action yang punya cerita menarik. Kedua film di atas meski, well, penuh baku tembak tapi dialognya sudah cukup menarik, tidak membosankan. Tapi untuk nonton dua kali? Ini mungkin yang akan saya katakan: No sir, thank you…. Lalu kenapa Anda suka The Matrix? Alasannya: sefiktif apapun film The matrix tapi dialognya sangat cerdas, religius dan filosofis. Sangat ketat dan orang mungkin harus nonton dua kali untuk benar-benar memahami ceritanya. Menurut saya film-film Hollywood yang tetap enak disaksikan bahkan setelah sekian puluh tahun adalah genre drama-komedi atau drama-tragedy. Jadi jika orang bertanya pada Anda; sebenarnya Anda itu lebih suka Hollywood apa Bollywood sih? Apa jawab Anda?
Holly atau Bolly tidaklah menjadi soal. Saya punya opini sendiri soal film yang bagus. Untuk saya pribadi film yang bagus adalah film yang, terlepas dari siapa pembuatnya dan apa genre-nya, mampu membawa/menyulut katharsis dalam diri kita. Dan sebuah pencerahan terkadang muncul dalam diri kita berkat skrip yang edukatif atau dramatisasi cerita yang mengaduk emosi kita sedemikian rupa hingga tumpahlah beban kita yang selama ini mungkin tak bisa kita lepas atau bahkan mungkin tidak kita sadari keberadaannya namun terasa menyesakkan dada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar